Dendam
…
Aku ketik puisi pada bidang kosong
Dengan darah dan nanah pada cemarut wajah penari
Tahukah kau nada riang itu?
Merancak syair dialiri tangis
Adalah luka tak pernah mati.
Surabaya (29 Nov 2008)
Ibu, malam ini kumenyaksikan lagi
kesekian juta kali besarnya kasihmu padaku
Hanya beberapa detik kusandarkan punggung pada lusuh bangku mobilku dgn sejumput lelah
Berjam-jam tangan rentamu memijat pundakku
Mengelus kasih dada ringkihku dengan bawang merah dan telon
Berharap batuk yang tidak kunjung usai menghampiriku, pergi meninggalkanku
Ibu, aku malu padamu
Bahkan ketika tak jua kau mampu pejamkan mata lelahmu di tiap tiga perempat malam yang kau lewati sendiri
Aku tak acuh dengan selimut tebalku di rumahku dan tak pernah cukup perduli bahwa kau ingin, walau hanya semalam, ditemani
Ibu, di lebih setengah abad kau lewati hidupmu
Dan di 37 tahun kehidupanku sebagai anakmu
Baru malam ini kulihat binar indah matamu..
Padahal, hanya sekali luncuran kembang apai kau saksikan..
Ibu.. anak apa aku ini?
Sedang aku jelajahi ribuan mil di tiap keramaian, menyaksikan kembang api, hanya untuk kuhabiskan pergantian tahun yang kemudian kulewati lagi tahun baru itu dengan banyak kesia-sian karena mengabaikanmu
Ibu… aku mengasihimu
Sangat…
Aku rela, kini menukar kebahagianku, jika itu cukup mampu membuatmu tetap sehat dan senantiasa bahagia, walau ku tau, kebahagianmu adalah saat aku bahagia.
Aku rela, merasakan hanya satu putaran bahagia di Desember lalu, tidak perlu tujuh, tidak perlu sampai kuselesaikan Juli, jika itu demi cintamu padaku.. Walau kau tak pernah menuntutku begitu.
Ibu… ijinkan aku untuk senantiasa menyayangimu
Karena hanya cintamu yang menerimaku dengan segala keburukanku, kekuranganku dan sisi gelapku
Ibu… Selamat Tahun Baru
(Bandung, 31 Desember 08, 00.00)
…
Aku ketik puisi pada bidang kosong
Dengan darah dan nanah pada cemarut wajah penari
Tahukah kau nada riang itu?
Merancak syair dialiri tangis
Adalah luka tak pernah mati.
Surabaya (29 Nov 2008)
Aku memujamu pada syair Rumi dan Gibran
Pada bait narasi juga puisi
Aku memujamu laksana roh memuja raga
Memandangmu dalam peluk lelapku
Melantunkan jiwa tenang
Duhai… malaikat surga
Surabaya (7 Des 2008)
The 29th Sonata by Shakespeare: For thy sweet love rememberer’d such wealth brings…(Karena cinta manismu mengingatkan kekayaan yang dibawanya)
Ketika Dewi Fortuna dan manusia memandang aib padaku,
Seorang diri aku meratapi pengasinganku,
Mengguncang surga yang tuli dengan tangisan sia-siaku,
Dan menatap diriku sendiri serta mengutuki nasibku,
Berharap seperti orang yang lebih berharta,
Menonjol seperti dia, seperti dia yang banyak berteman,
Mendambakan kecakapannya, keleluasaannya,
Dengan yang paling kunikmati pun ternyata tak memuaskanku:
Meski begitu, dalam pikiran yang nyaris kubenci ini,
Tiba-tiba aku memikirkanmu, lalu keadaanku,
(Seperti burung yang bangkit saat fajar dari bumi yang gelap)
Aku menyanyikan kidung suci di gerbang surga,
Karena cinta manismu mengingatkan kekayaan yang dibawanya
Hingga aku tak mau bertukar nasibku dengan para raja.
————————
…………….
Hening Malam ini…
Ku lihat bayangmu di sela luruh hujan yang mencabik atap rumahku
Jangan kau cariku di desah angin atau di riak rintik, katamu
Tapi, kau adalah sinar
menyeruak diantara genteng, pepohonan dan ruas jalan
Apakah salah menanti waktu, saat terangmu kembali?
Pada malam malam saat kita terjaga
Masih saja angin menyanyikan dendang kita..
Surabaya, 27 Nov 2008, 11:48:56
…………………………………
Cuma sepotong brownies…
Tp cukup membuat dunia menjadi manis…
Surabaya, 22 Nov 2008, 12:34:26
…………………………
……………
Pagi di sudut dermaga
Kala angin menyapa butiran kabut
Desahnya menuai tanya,
pada malam yang berlari pergi
Adakah perjalanan ini mimpi,
atau hanya arakan awan melintasi tempat berlabuhmu.
meneduhkan kita kala sesat sejenak?
Sedang jejak tlah tertoreh pada ruang dan waktu
Biasnya masih merona hingga kini,
Pada pagi, kala kabut memuai pergi..
Surabaya, 27 Nov 2008, 17:47:16
……..
Ya Allah… Ya Rabb…
Jika masih KAU dengar suaraku
Aku mohon malam ini, KAU bisikkan kata dalam tidurnya
” Ada sebuah hati menantimu Hai Nahkoda ”
….. ( Sby, 25-Nov-2008, 3:25am)
……….
Tiiit… tiiit… tiiit… :
Sayang… bisa bantu aku?
Beri 1 saja kaum Adam yg setia & tulus (cukup 1), dan aku akan mengabdi padanya seumur hidupku…!
……. ( Sby, 25 Nov 2008. 3:02 am)
…
Terserah, kau sebut ini apa..
Yang aku tau, aku begitu sebal padanya…
Yang menyita perhatianmu begitu banyak
…………..
Haruskah ku mati karenamu
Terkubur dalam kesedihan…sepanjang waktuku
Haruskah kurelakan hidupku
Hanya demi cinta yang mungkin bisa membunuhku
Hentikan denyut nadi jantungku
Tanpa kau tahu betapa suci hatiku
Untuk…memilikimu
Adakah keikhlasan
Dalam palung jiwamu…mengetukmu
Ajarkanmu bahasa perasaan
Hingga hatimu tak lagi membeku
Tiadakah ruang di hatimu untukku
Yang mungkin bisa tuk kusinggahi
Hanya sekedar penyejuk
Di saat ku layu
Kusetia menantimu hingga akhir masa
…………..
ketakrelaanmu adalah kemutlakan, karena hukum interaksi hati telah demikian,…mudah2an kita sepakat bahwa untuk cinta partikel apapun akan saling mencari…. ![]()
( Sungguh… ini adalah syair yang sangat indah…, AKU SEPAKAT bahwa kekayaan fikir seseorang adalah kemampuannya meng’interprestasi sekeliling. Dan memanifestasikannya dalam laku. Kau sdh menunjukkannya dg sempurna. Thanks sdh mensupport. Senang mengenalmu…)
……………
Aku jarang mengatakan ini, padamu
BAHWA…. Aku menyayangimu
Karena… kaupun sering mengatur jarakmu padaku
Aku tau, itu karena kau takut jika melukaiku
Kau begitu menjagaku, dengan caramu
Kau begitu perduli, pun dengan caramu
Betapa ingin, aku memelukmu sekedar kau tau aku bangga dan mengasihimu
Tapi, tak akan cukup keberanianku tunjukkan itu
Aku Mengasihimu…
Karena kau… adalah adikku
(Mba Rin kangen… Dhe)
Selamat Pagi…
Aku sering lupa katakan ini
Selamat Siang…. Waktunya makan
Sayang sekali, aku juga sering terlewat mengatakan
Selamat Malam… Selamat Tidur… Kutemani kau menghabiskan malammu,
Ingin sekali kuucapkan itu, sayangnya… mimpi-mimpi selalu mendahului temani tidurku
Dan kau, masih saja baik…
Menjadi hal terbaik yang pernah aku miliki
Berapa kumparan hari ya, kita telah lewati ?
KAU, hadir dalam lirih doa-doa malamku.
Bahwa ditiap ayat, KAU aliri nafasku, adalah kerendahan diri tak cukup tengadahkan kepala
KAU ESAKU… ciptakan mimpi saat ini
Galau ragu membias.
Aku ingin terjaga…
KAU… Ya RABB-ku
Malam ini adalah saat bintang jatuh dipangkuanku.
Dan kau katakan, kenapa tidak jika Allah berkehendak.
Adalah KUN FA YAKUN, terjadilah…
Bahwa Musa membelah laut, lalu brjalan ditengahnya.
Kenapa tidak untuk asa jadi nyata.
Dan ketika raguku ‘rasa’mu adalah sama, kau jawab cukuplah.. jangan ulang tanya yang sama..
5 atau 20 tahun sekalipun bukanlah bentang usia, ‘aku tak peduli’, katamu…
Akhirnya… kau ucap juga…
Kau tau, aku menunggunya
You knocked my door early morning
When I wake up from a dreaming
And It’s to be left behind, only
Good bye Pearly…
(aku paling gak suka puisi ini…, puisi paling jelek yg pernah aku buat di Desember 2003)
Kau membuat langkahku ragu
Diatas kesaksian yang membias
Ada rindu dan rancu
Tak cukup meyakinkanku dengan lugas
Kau katakan rindu
Tapi langkahmu makin melibas
Terkoyak luka, cemburuku… (perlukah itu?)
Biar waktu yang menggerus, memupus
Seluruh kata ini adalah tentangmu
Tentang rindu yang selalu menggebu
Tentang cemburu yang membuat hati tak menentu
Juga marahku padamu…
(ingatkah kau, ketika ku teriak karena kau acuhkanku? Atau tangisku ketika kau tak juga beranjak dari pembaringanmu, sdg hari tlah berpacu dgn waktu?)
Apapun adanya dirimu…
Ku selalu mencintaimu…
Karena kau adalah belahan jiwaku…
(Malaikat-malaikat kecilku)
Bagaimana mungkin aku bisa mengacuhkanmu, melupakanmu?
Sedang kau ada dalam tiap tarikan nafasku, mengalir di aliran darahku.
Bahkan ketika gelegar halilintar bersahutan diluar sana, kau hadir dalam curah hujan yang deras yang membuat banjir kotaku.
Kau adalah irama gitar pada lagu Kepayang yang dimainkan Andra The Backbone, grup idolaku.
Kau juga renyah crunchy Bebek Peking The Duck King, kesukaanku.
Kau adalah Miracle Lancome & Bvlgari Yellow di titik nadiku… wangi favoritku.
Kau hadir di setiap mimpiku…
Lalu….
Apakah cukup dalam satu kejapan mata saja aku bisa melupakanmu. Sedang Romy Rafel sekalipun tak akan sanggup membuatku begitu. Jika kau mampu… ajari aku! Agar rindu ini, tak mebuatku makin mengharu biru.
Please… aku tak mampu melupakanmu
(untukmu, yang membuat hatiku seperti tertumpah tinta warna biru…)
Pernah gak merasa jenuuuuuh banget ama dering phonsel? Rasanya sebal banget dengar suaranya. Bahkan hanya untuk sekedar getarnya… Apalagi kalau sebagian besar telp/SMS yg masuk adalah tentang sesuatu hal yang sgt tdk diharapkan.
Ketika hal itu terjadi, biasanya….
Lanjutan : Click rinisst.wordpress.com pd Blogroll
Seperti angin yang merindukan pijakan,
Itulah sesungguhnya aku padamu…
Seperti ombak yang berusaha memeluk batu karang
Itulah aku denganmu….
(Maly, 11:33:28, 22-10-2008)
…..
Dimana catatan perjalananmu disimpan?
Aku tersesat mencarinya…
(Crb, 16:28:42, 14-10-2008)
Tlah kupinta malam agar terlelap bersamamu
Maka….
Terpejamlah diindah matamu, sambil tersenyum manis dibibirmu
Lalu, biarkan aku memelukmu di sejuta khayalku
(Crb, 21:46, 11-10-2008)
Ada tanya dalam benak
Sejenak rindu untuk siapa?
Sedang diri, sendiri dalam sepi
Kemana hati kau singgahi?
Jika Tuhan beriku segenggam padi, agar kuberikan pada sekelilingku sebagai benih.. Apakah aku salah jika kemudian aku sesekali melongok ladang untuk melihat semaiannya?
Aku tau batasanku, koq… Hanya melongok!
2 hari ini, ditiap sore hujan mengguyur deras di kota-ku Surabaya. Tidak itu saja, semalampun hujan deras terjadi. Walau aku tak menunggu, tapi aku yakin sekali jika hujan semalam berlangsung cukup lama. Setidaknya, aku tau dari bekas hujan jam 7 tadi pagi, ketika aku mengantar anak2 sekolah.
Hujan deras selalu identik dengan banjir dimana2. Tapi aku gak mengira, jika banjir ini mendahului terjadi di rumahku. Kamar tidurku…
Ya… ketika semalam hujan deras, rupanya sudut kamarku ada yang bocor, tanpa aku tau. Walhasil….
( Kelanjutannya bisa dibaca di rinisst.wordpress.com)
Waktu kita semakin kuncup…
Menggenggam dunia dengan tanggal dan waktu…
Lalu, bilakah kita tersenyum menunggang awan beralas bening embun?
Entahlah.. yang kutau, hanya ini yang dapat kulakukan untukmu kini..
SELAMAT PAGI KEKASIH HATI
(Crb 04:15:13, 06.10.2008)
Kau adalah pohon rindang itu, yang aku singgahi kini
Diantara perjalanan membelah dunia,
Lalu,
Kubuat rumah pohon…
Dindingnya kasih sayang,
Atapnya kehangatan…
Agar aku selalu bisa kembali
Dari sekian ribu perjalanan…
Untuk sebuah keyakinan
dariku…
Selamat tidur irama hidupku..
(Crb 01:10:34, 02.10.28)